Salah satu kelebihan makhluk bernama
manusia yaitu bahwa Allah swt menghiasi hidup manusia ini dengan syahwat, atau
yang lazimnya kita sebut dengan hawa nafsu. Inilah tenaga, yang merupakan daya
dorong untuk melahirkan dinamika dalam kehidupan manusia yang menyebabkan
terus-menerus terjadinya perkembangan dalam sejarah peradaban dan kehidupan
manusia.
Hawa
nafsu bisa melambungkan seseorang kepada puncak kejayaan dan hawa nafsu dapat
menenggelamkan seseorang ke dasar jurang kehancuran yang paling dalam. Pada
Surat Ali ‘Imron ayat 14 Allah SWT berfirman :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ
النِّسَاءِ وَالبَنِيْنِ وَالقَنَاطِيْرِ المُقَنْطَرَةِ وَالْفِضََّةِ
وَالْخَيْلِ المُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالحَرْثِ......
“Dihiasi diri
manusia dengan hawa nafsu terhadap apa yang diinginkan, berupa
perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas
dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang......”.
Allah SWT menghiasi manusia dengan hawa nafsu, dengan kata lain hawa nafsu adalah perhiasan. Manusia tanpa hawa nafsu sama saja dengan orang yang tidak berhias, monoton, tidak mempunyai perkembangan dalam gerak kehidupannya. Tetapi, kalau hawa nafsu adalah perhiasan, maka jika kita berbicara soal perhiasan ada dua hal yang harus menjadi catatan pokok. Pertama, kapan suatu perhiasan boleh kita pakai? Yang Kedua, dimana perhiasan itu harus kita pakai? Kalau saudara berdandan rapih, pakai sepatu dengan kaos kaki, celana, jas dan dasi, tapi itu saudara lakukan pada saat saudara akan pergi ke WC, maka saudara sudah memakai perhiasan tidak pada waktu yang tepat. Begitupun sebaliknya, kalau jam tangan saudara pakai di kaki, kopyah saudara pasang di kaki, lalu sepatu naik ke atas jidat, maka saudara sudah memakai perhiasan tidak pada tempatnya yang tepat. Demikian juga sifat yang bernama nafsu, kapan dia boleh diperturutkan? Dimana dia boleh disalurkan? Adalah tugas dari pada agama untuk mengatur syahwat atau hawa nafsu.
Allah SWT menghiasi manusia dengan hawa nafsu, dengan kata lain hawa nafsu adalah perhiasan. Manusia tanpa hawa nafsu sama saja dengan orang yang tidak berhias, monoton, tidak mempunyai perkembangan dalam gerak kehidupannya. Tetapi, kalau hawa nafsu adalah perhiasan, maka jika kita berbicara soal perhiasan ada dua hal yang harus menjadi catatan pokok. Pertama, kapan suatu perhiasan boleh kita pakai? Yang Kedua, dimana perhiasan itu harus kita pakai? Kalau saudara berdandan rapih, pakai sepatu dengan kaos kaki, celana, jas dan dasi, tapi itu saudara lakukan pada saat saudara akan pergi ke WC, maka saudara sudah memakai perhiasan tidak pada waktu yang tepat. Begitupun sebaliknya, kalau jam tangan saudara pakai di kaki, kopyah saudara pasang di kaki, lalu sepatu naik ke atas jidat, maka saudara sudah memakai perhiasan tidak pada tempatnya yang tepat. Demikian juga sifat yang bernama nafsu, kapan dia boleh diperturutkan? Dimana dia boleh disalurkan? Adalah tugas dari pada agama untuk mengatur syahwat atau hawa nafsu.
Lihatlah
kehidupan malaikat, malaikat makhluk yang diciptakan Allah tanpa hawa nafsu.
Maka kehidupan malaikat monoton, tidak mempunyai peradaban dan kebudayaan,
adalah makhluk yang secara instingtif diciptakan untuk berbakti, tidak punya
alternatif atau pilihan lain. Bisa kita lihat! Ada malaikat yang diciptakan
untuk sujud, sujuuuuuud saja sampai sekarang gak bangun-bangun.
Ada malaikat yang sejak diciptakan disuruh tabih, tasbiiiiiih saja yang
lain tidak. Ada malaikat yang sejak diciptakan diperintah untuk mencabut nyawa,
nyawaaaaa saja yang dibedolin yang lain tidak. Pekerjaanya
monoton tetapi memang karena tidak ada hawa nafsu, tidak ada kecenderungan malaikat untuk nyeleweng. Belum pernah
kan kita denger ada malaikat jibril korupsi ayat? Tidak pernah malaikat
maut keliru bedolin nyawa orang yang belum waktunya modar. Tidak
pernah! Malaikat itu :
عباد مكرمون لا يعصون الله فيما أمرهم و يفعلون ما يؤمرون
Maka kehidupan malaikat adalah monoton, dinamika tidak ada, peradaban dan kebudayaan juga tidak ada.
Andai kata bumi
dan seluruh isinya diserahkan kepada malaikat untuk mengisinya, barang kali
saudara tidak akan pernah kenal jembatan suramadu, monas, gedung-gedung
bertingkat yang mencakar langit. Semua yang menggerakan itu adalah karena
manusia mempunyai hawa nafsu. Kalau nafsu ini di arahkan kepada perempuan (ini
tentu ditujukan kepada laki-laki, pembaca yang perempuan belaga kagak ngerti
aja dah!) dimana saja, makhluk bernama laki-laki kalau dia normal, tidak
impoten, meski suka kepada perempuan dan itu wajar bin pantes
alias normal. Tetapi yang saya
katakan di awal, nafsu kepada perempuan adalah perhiasan. Kapan makenya?
Dimana makenya? Itulah tugas agama memberikan tuntunan dan aturan.
Nafsu kepada
wanita dapat mengantarkan seseorang kepada puncak kejayaan, tapi nafsu kepada
wanita dapat menenggelamkan seseorang ke jurang kehancuran bergantung kepada latar
belakang apa yang mendorong timbulnya syahwat tadi dengan kata lain motivasi
syahwat tadi digerakan oleh iman dan ketaqwaan atau semata-mata karena memang
syahwat kendaraan iblis. Kecendrungan mengumbar nafsu kepada perempuan ini memang
perhiasan tapi bisa juga jadi boomerang dalam kehidupan manusia sehingga inilah
yang harus dikendalikan dalam kehidupan kapan dan dimana. Kalau
nafsu adalah perhiasan, kapan dan dimana perhiasan itu harus dipake.
Begitu juga yang menyangkut soal perempuan. Kapan? Kapan, ya tentu kalau sudah
nikah! Dimana? Yang jelas bukan di depan umum!
.png)
By
Maret 17, 2012

0 komentar