Open top menu
Sabtu, 17 Maret 2012


Salah satu kelebihan makhluk bernama manusia yaitu bahwa Allah swt menghiasi hidup manusia ini dengan syahwat, atau yang lazimnya kita sebut dengan hawa nafsu. Inilah tenaga, yang merupakan daya dorong untuk melahirkan dinamika dalam kehidupan manusia yang menyebabkan terus-menerus terjadinya perkembangan dalam sejarah peradaban dan kehidupan manusia.
Hawa nafsu bisa melambungkan seseorang kepada puncak kejayaan dan hawa nafsu dapat menenggelamkan seseorang ke dasar jurang kehancuran yang paling dalam. Pada Surat Ali ‘Imron ayat 14 Allah SWT berfirman :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالبَنِيْنِ وَالقَنَاطِيْرِ المُقَنْطَرَةِ وَالْفِضََّةِ وَالْخَيْلِ المُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالحَرْثِ......
“Dihiasi diri manusia dengan hawa nafsu terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang......”.

Allah SWT menghiasi manusia dengan hawa nafsu, dengan kata lain hawa nafsu adalah perhiasan. Manusia tanpa hawa nafsu sama saja dengan orang yang tidak berhias, monoton, tidak mempunyai perkembangan dalam gerak kehidupannya. Tetapi, kalau hawa nafsu adalah perhiasan, maka jika kita berbicara soal perhiasan ada dua hal yang harus menjadi catatan pokok. Pertama, kapan suatu perhiasan boleh kita pakai? Yang Kedua, dimana perhiasan itu harus kita pakai? Kalau saudara berdandan rapih, pakai sepatu dengan kaos kaki, celana, jas dan dasi, tapi itu saudara lakukan pada saat saudara akan pergi ke WC, maka saudara sudah memakai perhiasan tidak pada waktu yang tepat. Begitupun sebaliknya, kalau jam tangan saudara pakai di kaki, kopyah saudara pasang di kaki, lalu sepatu naik ke atas jidat, maka saudara sudah memakai perhiasan tidak pada tempatnya yang tepat. Demikian juga sifat yang bernama nafsu, kapan dia boleh diperturutkan? Dimana dia boleh disalurkan? Adalah tugas dari pada agama untuk mengatur syahwat atau hawa nafsu.
Lihatlah kehidupan malaikat, malaikat makhluk yang diciptakan Allah tanpa hawa nafsu. Maka kehidupan malaikat monoton, tidak mempunyai peradaban dan kebudayaan, adalah makhluk yang secara instingtif diciptakan untuk berbakti, tidak punya alternatif atau pilihan lain. Bisa kita lihat! Ada malaikat yang diciptakan untuk sujud, sujuuuuuud saja sampai sekarang gak bangun-bangun. Ada malaikat yang sejak diciptakan disuruh tabih, tasbiiiiiih saja yang lain tidak. Ada malaikat yang sejak diciptakan diperintah untuk mencabut nyawa, nyawaaaaa saja yang dibedolin yang lain tidak. Pekerjaanya monoton tetapi memang karena tidak ada hawa nafsu, tidak ada kecenderungan  malaikat untuk nyeleweng. Belum pernah kan kita denger ada malaikat jibril korupsi ayat? Tidak pernah malaikat maut keliru bedolin nyawa orang yang belum waktunya modar. Tidak pernah! Malaikat itu :
عباد مكرمون لا يعصون الله فيما أمرهم و يفعلون ما يؤمرون

Maka kehidupan malaikat adalah monoton, dinamika tidak ada, peradaban dan kebudayaan juga tidak ada.
Andai kata bumi dan seluruh isinya diserahkan kepada malaikat untuk mengisinya, barang kali saudara tidak akan pernah kenal jembatan suramadu, monas, gedung-gedung bertingkat yang mencakar langit. Semua yang menggerakan itu adalah karena manusia mempunyai hawa nafsu. Kalau nafsu ini di arahkan kepada perempuan (ini tentu ditujukan kepada laki-laki, pembaca yang perempuan belaga kagak ngerti aja dah!) dimana saja, makhluk bernama laki-laki kalau dia normal, tidak impoten, meski suka kepada perempuan dan itu wajar bin pantes alias normal.  Tetapi yang saya katakan di awal, nafsu kepada perempuan adalah perhiasan. Kapan makenya? Dimana makenya? Itulah tugas agama memberikan tuntunan dan aturan.
Nafsu kepada wanita dapat mengantarkan seseorang kepada puncak kejayaan, tapi nafsu kepada wanita dapat menenggelamkan seseorang ke jurang kehancuran bergantung kepada latar belakang apa yang mendorong timbulnya syahwat tadi dengan kata lain motivasi syahwat tadi digerakan oleh iman dan ketaqwaan atau semata-mata karena memang syahwat kendaraan iblis. Kecendrungan mengumbar nafsu kepada perempuan ini memang perhiasan tapi bisa juga jadi boomerang dalam kehidupan manusia sehingga inilah yang harus dikendalikan dalam kehidupan kapan dan dimana. Kalau nafsu adalah perhiasan, kapan dan dimana perhiasan itu harus dipake. Begitu juga yang menyangkut soal perempuan. Kapan? Kapan, ya tentu kalau sudah nikah! Dimana? Yang jelas bukan di depan umum!
Tagged

0 komentar